MENGENANG 19 TAHUN ALMARHUM RIYANTO SANG PAHLAWAN KEMANUSIAAN

MENGENANG 19 TAHUN ALMARHUM RIYANTO
SANG PAHLAWAN KEMANUSIAAN


Arsut Media, 25 Des 2019 - Riyanto bagi sebagian orang mungkin hanyalah sebuah nama saja tidak lebih, tapi bagi warga NU, Banser dan Umat Nasrani di Jawa Timur khususnya Mojokerto memiliki arti yang sangat besar yang akan selalu di kaitkan dengan kejadian bom di Gereja Eben Haezer, Mojokerto, yang saat itu sedang merayakan natal pada 19 tahun silam tepatnya 24 Desember 2000.

Dimana ketika itu Riyanto bersama empat anggota Banser lainnya di Gereja Eben Haezer. Acaranya sendiri adalah Misa Natal. Seperti biasa, acara di gereja ini berlangsung khusyuk sampai akhirnya seorang jemaat menyadari ada yang aneh di gereja. Ketika itu ia menemukan semacam bungkusan yang terletak begitu saja di dekat pintu masuk.

Melihat bungkusan tersebut Riyanto segera memeriksa bungkusan tersebut dan alangkah terkejutnya melihat isi bungkusan tersebut yang ternyata bom kengkap dengan kabel-kabel nya. Kemudian Riyanto berteriak sejadi-jadinya, "“Tiaraaaaap!” kata Riyanto yang diikuti gelombang kepanikan parah para jemaat.

Sambil berlari menjauh Riyanto mendekap bom ini. “Boooom!” bom pun meledak dengan gilanya sebelum sempat Riyanto melemper . Kaca-kaca pecah, pagar gereja roboh, dan teriakan parau di mana-mana. Tubuh Riyanto sendiri terpental hampir 100 meter jauhnya dan sudah tak dikenali lagi.

Aksi nya tersebut membuatnya pergi untuk selama-lamanya. Namun, apa yang dilakukannya begitu berarti bagi banyak orang, khususnya para jemaat gereja Eben Haezer yang ketika itu sedang penuh-penuhnya. Ribuan ucapan sanjung dan terima kasih pun berhamburan untuk Riyanto. Meskipun ia mendengarnya dari alam yang lain.

Tak hanya dijadikan nama jalan, Riyanto bahkan sampai membuat seorang Almarhum Gus Dur berkomentar. Beliau mengatakan “Riyanto telah menunjukkan diri sebagai umat beragama yang kaya nilai kemanusiaan. Semoga dia mendapatkan imbalan sesuai pengorbanannya.”

Riyanto adalah bukti yang sangat nyata jika perbedaan agama tidak menjadi halangan bagi seseorang untuk berbuat baik. Meskipun untuk itu harus mengorbankan nyawa sendiri. Tubuhnya mungkin hancur berkeping-keping, tapi nama Riyanto akan tetap bergaung bahkan jadi sisipan doa yang dipanjatkan oleh masyarakat Nasrani, meskipun Riyanto adalah seorang Muslim yang taat.
Semoga amal beliau di beri ganjaran yang setimpal oleh Allah SWT. Dan juga semoga hal tersebut tidak terjadi lagi di masa mendatang karena terorisme bukan lah ciri dari Bangsa Indonesia yang berbineka tunggal Ika. 
(Diolah dari berbagai sumber oleh Hari W/KIM Dusu)









Posting Komentar

3 Komentar