SEJARAH ASAL NAMA MULYOREJO


SEJARAH ASAL NAMA MULYOREJO 


 

Arsut Media Online, - Mulyorejo orang pasti mengenal nama tersebut sebagai sebuah daerah di pinggiran Surabaya tepatnya wilayah Surabaya Timur, yang mana Mulyorejo adalah nama sebuah Kecamatan dan Kelurahan. Juga salah satu Universitas tertua di Indonesia dan Rumah Sakitnya yaitu Campus C Universitas Airlangga ada di wilayah Kelurahan Mulyorejo.

Tapi hanya sedikit orang yang tahu Nama Mulyorejo berasal. Menurut tokoh masyarakat di sekitar nama Mulyorejo berasal dari nama dua orang pemuda daerah tersebut yaitu Mulyono dan Sarirejo yang gugur di tempat itu juga saat melawan tentara sekutu pada masa pertempuran 10 November 1945 yang sekarang diperingati sebagai hari Pahlawan tiap tanggal 10 November.

Sebelum dikenal dengan nama Mulyorejo daerah tersebut dikenal dengan nama pedukuhan Kepiting Lor dan Kepiting Kidul. Sejak tahun 1950, pedukuhan tersebut berubah nama menjadi Mulyorejo.

Dikisahkan Dua pemuda Dukuh Kepiting yang dengan gagah berani menghadang tank pasukan Inggris saat pembersihan wilayah Surabaya setelah Pertempuran 10 November 1945. Keberanian yang tidak didukung oleh senjata, membuat kedua pejuang tersebut gugur di pinggir kampung tanah kelahirannya. “Makanya setelah adanya pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda tahun 1950, tokoh-tokoh masyarakat di sini mengusulkan perubahan nama kampung menjadi Mulyorejo, sebagai gabungan nama Mulyono dan Sarirejo.

Usulan nama tersebut sebagai bentuk penghormatan warga kepada pahlawan sekaligus ingin memberi ingatan kepada warga bahwa di sini telah gugur pahlawan bangsa,” ujar H Joko Siswoyo, mantan Sekretaris Desa (Sekdes) Mulyorejo yang juga salah seorang saksi sejarah peristiwa gugurnya kedua pahlawan tersebut.

Sekarang ini sebutan Mulyorejo meliputi empat pedukuhan, yakni Kalikepiting Kaliwaron, Ngembong, Kali Alu. Selain itu, warga di sana juga berinisiatif untuk membuat patung kedua pahlawan tersebut, yang terletak di Jl. Mulyorejo, tepatnya perbatasan antara wilayah Mulyorejo dan wilayah Kelurahan Mojo Kecamatan Gubeng. Digambarkan dalam patung itu, Mulyono naik kuda sedang Sarirejo berdiri sambil memegang bambu runcing.
Lebih lanjut Joko Siswoyo mengatakan, Mulyono dan Sarirejo memang memiliki keberanian luar biasa untuk menghadapi Belanda waktu itu. Betapa tidak, hanya dengan senjata seadanya seperti takiari atau bambu runcing dan granat mereka berani menghadang pasukan Belanda yang dilengkapi senjata modern, seperti tank serta senapan. “Saya masih ingat, waktu itu Mulyono naik kuda, dengan pakaian ala Jepang dan bersenjata tumigun. Sedangkan Sarirejo berpakaian putih-putih tanpa sepatu. Keduanya juga membawa granat. Karena senjata tak seimbang keduanya gugur dalam penghadangan itu.

Sarirejo luka di bagian dada, sedang Mulyono di kaki, perut dan kepala. Kejadiannya sekitar pukul 03.00 sore dan dimakamkan menjelang shalat Maghrib,” tambah bapak tujuh putra ini. Pada akhir tahun 50-an, makam kedua pejuang tersebut dipindah ke makam pahlawan Ngagel. Pemidahan itu atas prakarsa pemerintah.

Dan setelah dilakukan penelusuran oleh Karang Taruna Mulyorejo dan Komunitas Pegiat Sejarah Surabaya Roodebrug  Soerabia, dan akhirnya Makam kedua Pahlawan Kampung Mulyorejo akhirnya bisa ditemukan di Makam Pahlawan Ngagel dan di tempatkannya pun juga bersebelahan. Semoga, perjuangan sang pejuang Mulyono dan Sarirejo membawa berkah  kampung Mulyorejo. Hari KIM DUSU

Sumber : Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   MEMORANDUM, Bekerja dan Membela Tanah Air, Rabu, 28 Mei 1997 . hlm.11



Posting Komentar

0 Komentar